Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Al-Qodir

Mukhamad Murdiono, M. Pd.

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI, UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

 

Layaknya pesantren pada umumnya, tujuan pokok keberadaan Pondok Pesantren Al-Qodir adalah mengkaji ilmu-ilmu agama Islam dan dakwah (menyebarkan) ajaran Islam. Yang menarik adalah, bahwa pesantren ini dengan jelas menegaskan dalam visinya, yaitu menggunakan pendekatan inklusif dalam mengajarkan agama Islam. Hal ini tercermin baik dari sosok perilaku pengasuh pesantren ini maupun model dakwah yang diterapkannya dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian, tampak jelas bahwa Islam yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Qodir ini adalah Islam ramah, kontekstual, dan menghargai nilai-nilai multikultural sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Tampaknya, Pesantren Al-Qodir ini paham betul dengan model dakwah yang dilakukan oleh Rasululah saw dan para Walisongo yang ada di Jawa khususnya. Oleh karena itu, dalam banyak hal model dakwah yang dilakukan mirip dengan model dakwahnya para Walisongo, misalnya menggunakan kesenian sebagai media dakwah. Misalnya, pentas Ketoprak, Festival Band, Musabaqoh Tahlilan, Pentas Campursari, Pentas Wayang Kulit, dan Festival Jathilan yang diselenggarakan oleh pesantren adalah bentuk kegiatan dakwah lewat kesenian yang rutin dilakukan setiap tahunnya.Kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat sekitar pondok tersebut juga bertujuan sebagai ajang komunikasi antar masyarakat dan ajang komunikasi masyarakat dengan pesantren. Intinya adalah secara tidak langsung mendekatkan masyarakat dengan ajaran-ajaran Islam. Pesantren, menurutĀ K.H. Masrur Akhmad MZ, yang awalnya dianggap hanya tempat orang-orang suci dan ekslusif, tetapi setelah ada momen-momen festival kesenian anggapan itu tidak terjadi lagi. Bahkan, secara tidak langsung dapat mendekatkan masyarakat dengan ajaran-ajaran Islam.

Dengan model dakwah yang semacam itu, menjadikan khususnya K.H. Masrur dan umumnya pesantren dan santrinya dapat bergaul dengan siapa pun dan apa pun golongannya. Ketika Kiai Masrur ditanya, modal apa yang paling utama dibawa sebagai orang Islam ketika bergaul dengan berbagai golongan termasuk non-Islam? jawab beliau adalah akhlak Islam. Jadi, ketika bergaul yang ditonjolkan bukan ajaran Islam yang asing bagi golongan yang belum banyak mengenal Islam atau bahkan ajakan secara langsung untuk mengikuti ajaran Islam, akan tetapi akhak yang Islami. Ternyata hal ini lebih bisa diterima dan menjadikan orang simpati terhadap Islam. Dituturkan, tidak sedikit yang kemudian golongan non-Islam yang kemudian masuk Islam akibat bergaul dengan K.H. Masrur Akhmad MZ. Menurutnya, mereka yang masuk Islam bukan karena paksaan, akan tetapi mereka tahu dan sadar betul bahwa Islam adalah jalan yang tepat. Hal ini tidak terlepas dari pembawaan Islam yang santun dan menonjolkan akhlak dalam berdakwah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *