Sepenggal Kisah Puasa

Di bawah terik matahari padang pasir, seorang perempuan hamil tua bersandar pada pohon kurma. Sendiri, menyingkir dari sanak famili. Pikirannya berkecamuk, apa hendak dikata bila ada yang bertanya: mana suamimu? Siapa yang menghamilimu?

Peristiwa itu terjadi 21 abad yang lalu, tatkala orang-orang percaya bahwa yang disebut mukjizat hanyalah peristiwa luar biasa yang bisa disaksikan mata kepala. Dalam keputusasaan, beriring deru angin panas padang pasir, mukjizat itu terjadi dalam bentuk suara:

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا  فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“maka bila engkau bertemu seseorang, katakanlah: sesungguhnya aku bernadzar puasa untuk ar-Rahman (Allah), sehingga aku tidak akan berbicara pada hari ini dengan manusia manapun.” (Qs. Maryam: 26)

Perempuan itu – kata Anas ibnu Malik, Ibnu Abbas, ad-Dhahhak, Qutadah, dan Abdurrahman bin Zaid – diperintahkan untuk menjelaskan bahwa dirinya sedang berpuasa, dan karenanya dia tidak boleh bicara, bahkan ketika ada yang bertanya dan membutuhkan jawaban sekalipun.

Senyum manis mulai mengembang di bibir perempuan itu, betul-betul manis melebihi manis buah kurma matang yang bergelantungan tepat di atas kepalanya yang berbalut kerudung. Bila perasaan kalut, sering kali pikiran tak mampu berpikir jernih. Sebenarnya perempuan itu tahu, dalam agamanya diajarkan bahwa orang yang sedang berpuasa tidak boleh makan, tidak boleh minum, juga tidak boleh berbicara walau sepatah katapun.

Terhadap umat yang hidup dua ribu tahun lebih silam itu, Tuhan seakan-akan mau bilang: “tak cukup bagi-Ku puasamu yang hanya menahan makan dan minum. Aku (Tuhan) ingin melihat kamu menahan diri untuk tidak berbicara.”

Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah as-Saddi menceritakan, di jaman itu, di kalangan Bani Israil, barang siapa yang sungguh-sungguh berpuasa, dia akan mencegah diri untuk tidak berbicara, sebagaimana menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum. Mereka akan puasa bisu sampai sore hari dan matahari surup ke barat.

Seperti dikisahkan dalam Tafsir Al-Baghawi,  perempuan yang juga menahan sakit karena hendak melahirkan itu merasakan angin segar, yang berhembus ke dalam jiwanya. Dia mulai mengerti konteks firman Tuhan yang diperdengarkan padanya oleh malaikat suruhan itu. Baginya, puasa bukan saja tidak makan dan tidak minum, tetapi juga tidak bicara. Bila nanti ada yang bertanya pada dirinya: mana suamimu? Siapa yang menghamilimu? Sesuai perintah Tuhan, dia cukup memberi isyarat dengan menunjuk pada kandungannya.

Mengapa puasa pada jaman itu, jamannya Bani Israil, mensyaratkan diam? Mengapa berbicara termasuk hal yang dilarang dalam keadaan berpuasa? Apa yang Tuhan inginkan dari puasa bisu?

Tak ada yang tahu. Tak ada jawaban. Hingga sekitar 600 tahun kemudian – pasca peristiwa perempuan hamil tua yang diperintahkan untuk puasa dengan tidak berbicara itu – seorang anak manusia paling mulia dari kalangan suku Quraisy, bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu tiga hal: bila bicara, dia berdusta; bila berjanji, dia ingkari; dan bila dipercaya, dia khianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Orang-orang padang pasir – yang berwatak keras dan kasar lantaran tuntutan alam lingkungannya – terkejut mendengar sabda pemuda tampan, gagah dan terpercaya itu. Orang-orang padang pasir, baik dari keturunan Bani Israil maupun Bani Ismail, menjadi tahu marabahaya yang ditimbulkan oleh banyak bicara, sedikit berpikir. Mereka menjadi tahu apa hikmah puasa bisu.

Pengetahuan mereka tentang bahaya banyak bicara membuat mereka berhati-hati dalam berkata-kata. Mereka berjuang keras agar setiap kali berbicara, tidak ada dusta; setiap kali berjanji, tidak ada ingkar; dan setiap kali diberi amanah dan kepercayaan, mereka tidak mengkhianati orang-orang yang telah memberi mereka kepercayaan.

Dua hingga tiga ratus tahun kemudian, tepatnya pasca berakhirnya era Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in (Khoirul Qurun), orang-orang kembali lupa akan marabahaya banyak bicara. Orang-orang mulai mudah mengumbar kata-kata, berlomba-lomba menjual janji-janji manis, bahkan dengan mudahnya mereka mengkhianati orang-orang yang telah menaruh kepercayaan dan amanah di pundak mereka.

Tahun silih berganti. Bulan Ramadhan berlangsung berulang kali. Orang-orang semakin tidak mengerti betapa bahaya lidah, yang tajamnya melebihi tajam belati. Malahan, di jaman kita ini, ada sebuah pesta tahunan, dimana panggung diberikan untuk orang-orang yang mau menebar janji-janji, menghambur-hamburkan kata yang sudah pasti mereka akan khianati. Kita menyebutnya: Tahun Politik.

Namun, di tengah kerumunan orang yang tak paham bahaya lidah, masih ada golongan orang-orang yang mengerti, lalu mereka berhati-hati. Mereka tetap berjuang menjaga lidahnya, demi menjaga kesucian hati dan nurani.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *